Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2026

A Courage to Be Free

From a trembling heart to a lighter heart. Over the last few months, I've been confused and anxious about my plan to resign. The truth is, I don't have any savings or a backup plan, and I still have cats to feed every day. Those fears and doubts continued to pile up inside me. On January 28, I finally gathered the courage to talk to my father. The moment was simple—we were eating durian together after maghrib. Even though I was nervous and anxious, his answer was surprisingly calming: "That's okay, you're not making any progress there, so why should you stay? There are many ways to reach China." It felt as if all the burdens I had been carrying for the past few months suddenly became lighter. For the first time, I felt at ease, because I had my parents' blessing. On January 29, I had a work discussion with my colleagues and my boss. After discussion ended, I chose that moment to deliver my decision. With my heart pounding, I spoke briefly and cle...

Catatan Produktif "Mencoba Produktif"

Beberapa minggu sebelumnya, rutinitas saya setelah bekerja hanya diisi dengan rebahan. Bahkan saat weekend pun tidak jauh berbeda: rebahan, scroll media sosial sampai subuh, tidur setelah matahari terbit, lalu bangun menjelang sore. Pola hidup ini benar-benar tidak teratur. Saya mulai merasakan dampaknya pada tubuh—lebih lemas, mudah lelah, sering pusing, perut membuncit karena makan tidak teratur, dan yang paling terasa adalah hilangnya motivasi untuk menjalani hidup. Di tengah rasa jenuh itu, sempat terlintas pikiran untuk resign. Rasanya tidak ada motivasi sama sekali, sementara mencari pekerjaan pengganti juga membingungkan. Lalu muncul ide untuk mengambil semacam “hiatus”: fokus memperbarui keterampilan sekaligus mencoba menambah penghasilan dari hasil rajutan. Kebetulan di rumah masih banyak benang yang tersisa dari beberapa tahun lalu, belum terpakai karena saya belum punya ide mau dibuat apa. Namun, keputusan untuk resign bukan hal mudah. Di zaman sekarang mencari pekerjaan b...

Random Pics

Tanpa tema khusus, tanpa rencana panjang—hanya potongan gambar acak yang menyimpan cerita sederhana.

Doa-Harapan

Harapan Alasan Catatan Punya usaha kecil dari crochet Menyalurkan hobi jadi sumber rezeki Insya Allah bisa ya, walau pelan-pelan… Jalan-jalan ke Jepang Suka budaya dan ingin pengalaman baru Insya Allah suatu hari tercapai… Dapat pekerjaan yang lebih sehat secara mental Karena pekerjaan sekarang membuat lelah mental Insya Allah akan menemukan tempat kerja yang lebih tenang baik pekerjaannya dan orang-orangnya Lebih tenang secara batin Supaya tidak merasa terbebani secara moral dan takut dosa Insya Allah diberi ketenangan hati dalam setiap langkah Belajar cuek dengan cara sehat Supaya tidak larut dalam overthinking, tapi tetap bertanggung jawab Insya Allah bisa belajar cuek tanpa kehilangan rasa peduli Keluar dari lingkaran stres Karena setiap hari terasa berat, mudah lelah, dan ingin menghindar Insya Allah suatu hari akan merasa ringan men...

Belajar Cuek

Pembuka Beberapa waktu lalu, pikiran untuk resign kembali muncul dalam benak saya. Pertimbangan itu awalnya murni dari diri sendiri, dengan memikirkan orang-orang di sekitar saya. Namun, semakin dipikirkan, semakin pusing rasanya sampai badan ikut terasa capek. Saya butuh tempat bercerita, bukan ke orang tua, melainkan ke beberapa teman yang saya anggap lebih dewasa dalam berpikir. Dari obrolan itu, saya mendapat beragam jawaban yang membuka sudut pandang baru tentang pilihan antara resign atau bertahan. Pertimbangan Pertama: Resign Segera Alasan utama yang membuat saya ingin resign adalah ketidaktenangan pikiran saat mengerjakan pekerjaan yang terasa asal-asalan. Bos saya jarang sekali mengecek hasil kerja, padahal suatu saat pasti ada pertanggungjawaban. Walaupun yang dimintai pertanggungjawaban akhir adalah bos, tetap saya saya yang mengerjakan. Dari segi manajamen pun terasa kurang jelas, sering berubah-ubah, dan tidak tertata, sehingga yang kesulitan adalah bawahan seperti saya....

Awal Perjalanan Handmade

Awal Perjalanan Crochet Saya mulai belajar merajut sejak kuliah, sebelum masa Covid. Saat pandemi datang, saya justru semakin rajin merajut. Dari tas, dompet, strap masker, beanie, bucket hat, hingga pouch — semua saya buat dengan semangat. Waktu itu, saya tidak terlalu peduli dengan estetika atau kerapihan; yang penting bisa dipakai. Saking semangatnya, saya bahkan membuat rajutan untuk teman-teman kuliah sebagai kenang-kenangan terakhir sebelum lulus. Rasanya menyenangkan bisa memberi sesuatu yang benar-benar handmade. Percobaan Pertama Menjual Saya pernah mencoba menjual tas hasil rajutan. Awalnya tidak ada yang beli, sampai akhirnya tante saya membeli satu — mungkin karena kasihan, hahaha. Setelah itu, saya berhenti merajut karena harus bergelut dengan skripsi (dan kemalasan yang menyertainya, seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya). Semoga perjalanan kecil ini bisa menjadi langkah baru yang lebih konsisten, lebih rapi, dan siapa tahu bisa jadi jalan menuju sesuatu yang ...

Resign atau Bertahan?

Saya kira bertahan di pekerjaan ini akan membuat keinginan untuk resign perlahan menghilang. Nyatanya, semakin lama bertahan, semakin lelah pikiran dan badan. Menulis adalah satu-satunya cara saya bertahan, seperti bunga yang tetap mekar meski hujan. Setiap pagi, rasa takut menyambut lebih dulu. Ada ketakutan untuk berangkat kerja, ada keinginan mencari alasan agar tidak masuk. Kadang terlintas pikiran ekstrem: ”Kalau saya sakit parah, mungkin bisa sekalian resign.” Tapi saya tahu itu bukan jalan yang benar. Pikiran itu hanya gambaran betapa besar keinginan saya untuk berhenti. Di balik rasa takut itu, ada mimpi-mimpi yang ingin saya wujudkan. Namun ketakutan lain segera datang: takut menganggur, takut tidak mendapat pekerjaan lagi, takut merepotkan orang tua, dan takut tidak punya uang. Saya terjebak di persimpangan: bertahan demi keamanan finansial, atau melepaskan demi kesehatan mental dan fisik. Usia bertambah, tekanan pikiran semakin menggerogoti, dan saya m...

Sosial Media: Apakah Benar-Benar Bermanfaat?

Setiap kali membuka sosial media, terutama In*gram, perasaan takut sering muncul tanpa diminta. Di In*gram ada tab navigasi: home, search, reels, akun, dan DM. Anehnya, saya hampir selalu membuka halaman DM dan search. Saya tidak berani ke halaman home, karena di sana saya akan melihat postingan dan story orang lain. Setiap melihat pencapaian orang lain, perasaan saya langsung turun. Bukan karena saya membenci atau tidak suka melihat mereka sukses, tapi karena secara tidak sadar saya mulai membandingkan diri sendiri. Banyak hal yang mereka capai belum saya alami. Dari situlah rasa iri muncul—bukan kebencian, hanya pertanyaan kecil di kepala: "Kok bisa mereka?" Ungkapan seperti "aku ikut bahagia atas kebahagiaanmu" sering terasa seperti formalitas. Jujur saja, saya tidak terlalu yakin dengan perasaan itu. Bukan karena saya jengkel, tapi karena saya lebih merasa tidak peduli—atau mungkin terlalu sibuk berdialog dengan kekurangan diri sendiri. Mungkin semuanya k...

Tentang Menunda, Lelah dan Tetap Berfungsi di Luar

Setiap hari saya punya kebiasaan yang hampir selalu sama. Saya menyalakan laptop, membuka browser lalu membuka yutup . Di sana ada begitu banyak rekomendasi video—dari yang baru sampai video lama yang entah kenapa terus muncul. Tanpa sadar, waktu saya habis hanya untuk menonton video-video itu. Tujuan awal saya membuka laptop, yaitu untuk mengerjakan pekerjaan, perlahan hilang.      Tidak terasa empat sampai enam jam berlalu biasanya sampai jam 3 pagi. Setelah itu saya biasanya sudah mengantuk, tidak jadi mengerjakan apa pun, dan memilih tidur. Beberapa jam kemudian—karena sudah memasuki "keesokan harinya"—saya izin WFH dengan alasan sakit/kurang enak badan, padahal alasan sebenarnya yaitu pekerjaan saya belum selesai. Pola ini sudah berlangsung beberapa minggu. Rasanya seperti saya terus-menerus menghindari pekerjaan ini, dan jujur saja, itu menyebalkan.     Kalau dipikir-pikir, ini bukan pertama kalinya terjadi. Sejak SMA saya sering tidak mengerjakan tugas, a...