Setiap kali membuka sosial media, terutama In*gram, perasaan takut sering muncul tanpa diminta. Di In*gram ada tab navigasi: home, search, reels, akun, dan DM. Anehnya, saya hampir selalu membuka halaman DM dan search. Saya tidak berani ke halaman home, karena di sana saya akan melihat postingan dan story orang lain.
Setiap melihat pencapaian orang lain, perasaan saya langsung turun. Bukan karena saya membenci atau tidak suka melihat mereka sukses, tapi karena secara tidak sadar saya mulai membandingkan diri sendiri. Banyak hal yang mereka capai belum saya alami. Dari situlah rasa iri muncul—bukan kebencian, hanya pertanyaan kecil di kepala: "Kok bisa mereka?"
Ungkapan seperti "aku ikut bahagia atas kebahagiaanmu" sering terasa seperti formalitas. Jujur saja, saya tidak terlalu yakin dengan perasaan itu. Bukan karena saya jengkel, tapi karena saya lebih merasa tidak peduli—atau mungkin terlalu sibuk berdialog dengan kekurangan diri sendiri.
Mungkin semuanya kembali ke mindset masing-masing. Yang jelas, bagi saya, sosial media sering kali bukan tempat hiburan, tapi tempat di mana mental saya perlahan turun setiap kali melihat kehidupan orang lain.
Aku melihat dunia dari celah sempit, terhalang oleh rasa takut dan overthinking.
Dulu, saat baru membuat akun In*gram, saya cukup aktif mengunggah foto dan story. Saya merasa antusias membayangkan like dan komentar yang akan saya dapat. Namun, lama-kelamaan, karena beberapa hal dalam hidup, saya mulai mengurangi aktivitas itu—bahkan akhirnya menghapus semua postingan. Saya sempat aktif berkomunikasi dengan teman lama melalui DM, tapi kebiasaan itu berhenti saat memasuki semester akhir. Setelah menempuh kuliah selama tujuh tahun, saya akhirnya lulus—sering disebut sebagai mahasiswa fosil.
Saya menunda skripsi karena takut menghadapi prosesnya. Membayangkan harus mengerjakan, presentasi di depan teman-teman, dan asistensi untuk menerima teguran membuat saya merasa kerdil. Topik awal tentang pondasi tangki air terasa sulit, apalagi harus menggunakan software perhitungan struktur seperti SAP 2000 dan STAAD Pro. Membayangkan saja sudah membuat pusing. Pikiran yang berlebihan membuat saya berhenti, hanya menyelesaikan sebagian bab 1–3. Referensi yang melimpah pun tak terbaca. Kebiasaan menunda membuat saya tertinggal, hingga akhirnya saya mengurangi komunikasi, menolak ajakan ke kampus atau kafe, bahkan mengabaikan chat teman.
Sampai COVID-19 pun, saya masih belum bergerak dan benar-benar tenggelam dalam isolasi mandiri. Setiap hari saya mencari kesibukan lain untuk menghindari skripsi, mulai dari merajut, baking, memasak, berkebun, apa pun yang bisa dilakukan. Orang tua menegur saya habis-habisan karena terus menunda, bahkan membandingkan saya dengan teman atau tetangga yang sudah lulus atau bekerja. Awalnya saya mengabaikannya, sampai tahun ke-6, sisa satu tahun untuk menyelesaikan skripsi. Saat itu, karena tekanan "tinggal 1 tahun", aya mulai keluar untuk pertama kalinya dalam waktu lama.
Ada tawaran freelance di grup angkatan dengan bayaran yang lumayan langsung saya ambil. Jobdesknya menyusun laporan dari hasil analisa yang sudah ada. Saya ingat hasilnya kurang maksimal, dan hanya dibayar setengahnya. Meski begitu, saya bersyukur karena setidaknya ada hasil dari usaha yang saya lakukan.
Setelah merasakan senangnya mendapatkan uang dari pekerjaan pertama, saya langsung bertanya ke teman tentang lowongan lain. Akhirnya, melalui teman, saya mendapat informasi dari sebuah konsultan yang membutuhkan bantuan untuk menyusun laporan. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakan dan mulai bekerja di sana. Mendapatkan gaji tiap bulan rasanya menyenangkan—seolah-olah kaya mendadak. Namun, kesenangan itu tidak berlangsung lama, karena saya belum lulus kuliah. Teman-teman di kantor juga menyemangati saya untuk segera menyelesaikan skripsi.
Beberapa bulan terakhir sebelum batas akhir kuliah, dengan berbekal nekad, saya mulai serius mengerjakan skripsi saya. Topik yang saya ambil adalah drainase perkotaan. Bagi orang lain mungkin terasa mudah, tapi bagi saya sungguh sulit. Materi perkuliahan terasa membingungkan, dan saya merasa tidak ada hal yang saya ingat dari perkuliahan dulu. Entah apa yang salah dengan otak ini.
Saat saya mengerjakan skripsi sambil bekerja, bos saya memberi kabar bahwa saya diberhentikan sementara karena tidak ada proyek baru. Saya merasa senang sekaligus kecewa: senang karena bisa fokus pada skripsi, tapi kecewa karena kehilangan pemasukan. Selama diberhentikan, saya hampir setiap hari ke kampus, entah mencari dosen atau mengerjakan skripsi di sana. Nekad dan kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil: saya lulus setelah 6,92 tahun.
Setelah dinyatakan lulus (meski belum wisuda), mantan bos saya menghubungi untuk kembali bekerja di konsultan itu. Awalnya saya ragu—“Dulu kan saya diberhentikan, kenapa sekarang diminta kembali?”—tapi karena butuh penghasilan, saya mengambil kesempatan itu. Sejak kembali bekerja, saya mulai muncul kembali secara sosial, meski belum sepenuhnya seperti dulu. Saya masih enggan mengunggah foto di media sosial atau ikut acara reuni, karena cerita teman tentang progres hidup membuat saya merasa insecure. Memasuki jenjang kehidupan dewasa ini, mental terasa cukup terkuras.
Dipikir-pikir lagi, saya menyadari bahwa saya masih membutuhkan sosial media. Jadi, saya membuat akun kedua untuk membuka Instagram tanpa melihat postingan orang lain yang saya kenal. Di situ, saya menemukan semacam pelarian. Namun, mau tidak mau, saya tetap harus kembali ke akun pertama jika ada keperluan dengan orang yang saya kenal. Saat membuka akun pertama itu, insecuritas yang sangat besar kembali muncul karena melihat pencapaian orang-orang yang begitu gemilang. Seharusnya hal itu bisa menjadi inspirasi, tapi kenyataannya malah menambah rasa minder saya. Semua ini terjadi karena pencapaian orang lain adalah hal-hal yang sangat saya inginkan untuk diri saya sendiri.
Comments
Post a Comment