Saya kira bertahan di pekerjaan ini akan membuat keinginan untuk resign perlahan menghilang. Nyatanya, semakin lama bertahan, semakin lelah pikiran dan badan.
Menulis adalah satu-satunya cara saya bertahan, seperti bunga yang tetap mekar meski hujan.
Setiap pagi, rasa takut menyambut lebih dulu. Ada ketakutan untuk berangkat kerja, ada keinginan mencari alasan agar tidak masuk. Kadang terlintas pikiran ekstrem: ”Kalau saya sakit parah, mungkin bisa sekalian resign.” Tapi saya tahu itu bukan jalan yang benar. Pikiran itu hanya gambaran betapa besar keinginan saya untuk berhenti.
Di balik rasa takut itu, ada mimpi-mimpi yang ingin saya wujudkan. Namun ketakutan lain segera datang: takut menganggur, takut tidak mendapat pekerjaan lagi, takut merepotkan orang tua, dan takut tidak punya uang.
Saya terjebak di persimpangan: bertahan demi keamanan finansial, atau melepaskan demi kesehatan mental dan fisik. Usia bertambah, tekanan pikiran semakin menggerogoti, dan saya merasa diri ini sudah berbeda dari dulu.
Namun ada satu kenyataan yang tidak bisa saya abaikan: saya tidak melakukan apa-apa. Hanya menulis. Hanya berani menuangkan keresahan di atas kertas, tanpa langkah nyata. Seolah tulisan menjadi satu-satunya ruang aman, sementara dunia nyata tetap menakutkan.
Mungkin banyak dari kita yang bertahan demi gaji, tapi diam-diam kehilangan diri. Saya percaya ada jalan keluar yang lebih sehat—meski penuh ketakutan, langkah kecil bisa membuka pintu baru.
Comments
Post a Comment