Skip to main content

Tentang Menunda, Lelah dan Tetap Berfungsi di Luar

Setiap hari saya punya kebiasaan yang hampir selalu sama. Saya menyalakan laptop, membuka browser lalu membuka yutup . Di sana ada begitu banyak rekomendasi video—dari yang baru sampai video lama yang entah kenapa terus muncul. Tanpa sadar, waktu saya habis hanya untuk menonton video-video itu. Tujuan awal saya membuka laptop, yaitu untuk mengerjakan pekerjaan, perlahan hilang.
    Tidak terasa empat sampai enam jam berlalu biasanya sampai jam 3 pagi. Setelah itu saya biasanya sudah mengantuk, tidak jadi mengerjakan apa pun, dan memilih tidur. Beberapa jam kemudian—karena sudah memasuki "keesokan harinya"—saya izin WFH dengan alasan sakit/kurang enak badan, padahal alasan sebenarnya yaitu pekerjaan saya belum selesai. Pola ini sudah berlangsung beberapa minggu. Rasanya seperti saya terus-menerus menghindari pekerjaan ini, dan jujur saja, itu menyebalkan.
    Kalau dipikir-pikir, ini bukan pertama kalinya terjadi. Sejak SMA saya sering tidak mengerjakan tugas, atau baru mengerjakannya mepet waktu pengumpulan. Saat itu dampaknya tidak terlalu terasa karena "hanya" tugas sekolah. Tapi sekarang saya sadar, kebiasaan yang sama terus berulang, hanya skalanya yang semakin besar—sampai kuliah, dan sekarang di dunia kerja. Jarang sekali saya bisa menyelesaikan sesuatu tepat waktu. Sampai sekarang pun, saya masih bertanya-tanya kenapa pola ini terus terjadi.
    Kadang saya merasa pola keterlambatan itu bukan hanya soal pekerjaan semata, tapi juga berkaitan dengan cara saya berinteraksi sehari-hari. Ada semacam kecenderungan untuk menjaga jarak, menunda atau menghindari hal-hal yang menurut saya tidak terlalu penting, entah itu tugas kuliah dulu atau percakapan ringan sekarang. Sikap ini akhirnya terbawa ke rutinitas di kantor, membentuk kebiasaan yang konsisten dalam keseharian saya.
Di kantor, rutinitas saya hampir selalu sama. Parkir motor, absen, menyapa staf lain seperlunya, duduk, lalu menata laptop dan barang-barang di meja. Setelah itu saya langsung membuka pekerjaan. Jujur saja, saya malas memulai obrolan ringan seperti , "gimana kabarnya?", "hari ini bawa bekal?", atau cerita-cerita kecil lain yang rasanya tidak penting bagi saya. Saya memang bukan tipe orang yang ramah dan suka basa-basi.
    Kadang, saat staf lain sedang bercerita sementara saya tidak ikut mendengarkan, muncul rasa tidak enak karena terkesan tidak sopan. Tapi di sisi lain, saya datang ke kantor untuk bekerja. Bukan berarti saya selalu serius bekerja tanpa jeda. Saya juga butuh hiburan, biasanya dengan membuka yutup atau mendengarkan podcast menggunakan earphone. Masalahnya, setiap ada yang mulai berbicara, saya harus mengehentikan atau menjeda video yang sedang saya dengarkan. Terlalu sering terpotong membuat saya tidak fokus. Karena itu, ada kalanya saya berpura-pura tidak mendengar agar tetap bisa mendengarkan apa yang sedang yang putar.
  Melihat orang-orang di kantor bisa bercerita begitu terbuka tentang kehidupan pribadinya menimbulkan perasaan yang campur aduk. Ada rasa risih, tapi juga iri. Saya sendiri bukan tipe yang suka bercerita, apalagi karena pengalaman saya, tidak semua orang benar-benar ingin mendengarkan. Saya pernah merasa, ketika orang lain bercerita, mereka mendengarkan reaksi besar dari sekitarnya. Tapi saat saya yang bercerita, respon yang saya terima justru seperti, "iya, aku dulu juga begitu, malah lebih parah." Padahal bagi saya, pengalaman itu adalah hal baru dan wajar jika ingin dibagikan.
    Respon seperti itu membuat saya enggan bercerita lagi. Akhirnya, di kantor saya lebih memilih diam. Masalahnya, diam sepenuhnya juga terasa tidak mungkin. Seolah-olah saya tetap harus menanggapi cerita orang lain agar tidak dianggap aneh. Saat saya mengabaikan, rasa tidak enak itu memang ada. Tapi lama-kelamaan, saya mulai terbiasa dengan perasaan tersebut.
    Mungkin karena terlalu sering menahan diri di ruang-ruang seperti itu, saya baru menyadari bahwa sebenarnya saya masih bisa merasa hidup di tempat lain—di ruang yang lebih sunyi dan tidak menuntut apa-apa dari saya. Ruang kecil itu menjadi tempat pelarian sementara sekaligus tempat pulang, dimana saya bisa kembali menjadi diri sendiri dan melakukan hal-hal yang saya sukai tanpa dinilai, meski hanya sebentar. Meski hal-hal kecil memberi hiburan, saya tetap merasa ada sesuatu yang kurang. Rasa ingin keluar dari rutinitas itu perlahan berubah menjadi keinginan untuk bepergian, mencoba pengalaman baru di luar keseharian.
     Bayangan perjalanan menjadi semacam perpanjangan dari pelarian kecil yang saya lakukan, seolah-olah ada dunia lain yang menunggu untuk dijelajahi ketika kesempatan datang. Semakin sering saya membayangkannya, semakin kuat pula keinginan untuk menjadikannya nyata. Maka saya mulai menuliskan rencana perjalanan, walau masih penuh keraguan.
    Saya pernah mencoba menyusun itinerary untuk diri saya sendiri, untuk solo traveling. Saya belum pernah liburan sendiri tanpa keluarga. Bahkan liburan bersama keluarga pun sudah sangat lama, lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Selebihnya, perjalanan saya biasanya hanya sebatas ke rumah saudara untuk silaturahmi saat lebaran. Melihat teman-teman dan orang lain yang bisa bepergian jauh sendirian sering kali membuat saya iri. Saya juga ingin bepergian jauh.
    Karena rasa iri itu, saya mulai membayangkan liburan ke kota lain. Tidak perlu jauh-jauh dulu, menyesuaikan dengan kondisi dan budget. Beberapa kota yang sudah saya buatkan itinerary adalah Bali dan Yogyakarta. Untuk Bali, rencananya masih sederhana—baru mencakup biaya perjalanan pulang-pergi dan beberapa tempat wisata. Sementara untuk Yogyakarta, saya menyusunnya lebih detail: mulai dari estimasi biaya penginapan, makan, wisata, hingga transportasi. Saat mencari referensi lokasi dan menghitung biaya, saya merasa bersemangat melebihi mengerjakan pekerjaan kantor. Rasanya menyenangkan melakukan hal-hal baru, meskipun masih sebatas di atas kertas. 
    Selain itu, ada rutinitas lain yang hampir selalu saya lakukan setiap malam setelah kelelahan bekerja: karaoke sendirian di kamar dan menonton video yutub. Lagu-lagu yang saya nyanyikan kebanyakan K-Pop, ditambah beberapa lagu berbahasa Inggris. Saya seringkali membayangkan diri saya menjadi artis K-Pop 😆. Membayangkan bagaimana rasanya di-interview, berinteraksi dengan artis lain, sampai berdiri di atas panggung. Saya bahkan belajar dance-nya. Saya masih ingat, semuanya berawal sejak SMP, saat saya menirukan dance K-Pop dan sempat membentuk grup cover dance bersama teman-teman SMP. Setelah lulus SMP sampai sekarang, saya hanya melakukannya iseng-iseng di kamar. Dance itu akhirnya saya jadikan sebagai bentuk olahraga, karena saya tidak bisa berolahraga di luar rumah. Ada beberapa alasan kenapa saya tidak mau olahraga di luar, salah satunya karena saya perempuan—rasanya tidak perlu dijelaskan panjang lebar kenapa.
    Dengan rutinitas itu, saya bisa mendapatkan hiburan tanpa perlu bertemu orang atau berinteraksi dengan siapa pun. Saya sendiri tidak tahu apakah ini bisa disebut kesepian atau bukan. Yang jelas, karena sudah saya lakukan selama bertahun-tahun, semua itu akhirnya menjadi kebiasaan dalam hidup saya. Saya pernah melewatkannya saat sedang sangat sibuk, tapi pada akhirnya saya selalu kembali lagi ke rutinitas yang sama.

    Di satu sisi, rutinitas kecil di kamar membuat saya merasa hidup. Di sisi lain, kenyamanan itu kadang berubah menjadi alasan untuk menunda. Saya terlalu larut di ruang yang tidak menuntut apa-apa, sampai lupa bahwa ada hal-hal di luar sana yang tetap harus di jalani.
    Pelarian yang awalnya menyelamatkan, perlahan juga bisa menahan. Dan mungkin, di situlah kebingungan saya bermula. Beberapa orang melihat saya sebagai pribadi yang kesepian dan patut dikasihani. Pertama, karena saya tidak memiliki pasangan—baik pacar maupun suami. Kedua, karena saya terbiasa melakukan banyak hal sendirian. "Aku temani ya, kasihan kamu sendirian," atau "kok sendirian, memang tidak ada temannya?" adalah kalimat-kalimat yang sering saya dengarkan. Di waktu-waktu tertentu, pertanyaan itu akhirnya bergema juga di kepala saya sendiri. Apakah kehidupan yang saya jalani ini sudah benar? Apakah saya akan terus menjalani hidup seperti ini ke depannya? Usia saya bertambah, sebentar lagi menginjak 30 tahun. Apakah saya hanya perlu memikirkan diri sendiri, atau sudah saatnya mulai mempertimbangkan orang lain juga? Terutama keluarga—karena setiap pembicaraan tentang masa depan hampir selalu berujung pada topik itu. 
    Namun untuk saat ini, rutinitas kecil itulah satu-satunya hal yang masih membuat saya merasa sedikit hidup. Sebuah alasan sederhana untuk tetap bertahan, meski mungkin belum terlihat seperti "kehidupan yang seharusnya" di mata banyak orang.

    Saya tidak menulis ini untuk mencari jawaban, apalagi pembenaran. Saya hanya ingin mencatat apa yang sedang saya jalani, apa adanya. Mungkin suatu hari nanti, saya akan membaca tulisan ini lagi dan menyadari bahwa hidup saya sudah berubah. Atau mungkin tidak banyak berubah, tapi saya menjadi lebih berdamai dengannya.
    Untuk sekarang, saya masih belajar memahami diri sendiri—pelan-pelan, dengan cara yang mungkin terlihat aneh bagi sebagian orang. Saya belum tahu ke mana arah hidup saya akan berjalan. Yang saya tahu, selama saya masih bisa merasakan sesuatu, sekecil apa pun itu, saya masih ada. Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
Di luar aku berfungsi, di dalam aku tertunda. Seperti kucing ini: diam, lelah, tapi tetap ada. Kadang tidur adalah satu-satunya cara untuk tetap bertahan.


Comments

Popular posts from this blog

About Me

Hi, I’m Shaqin. I enjoy quiet things—like taking photos, writing, and making small handmade crafts. I also work with maps, report, water modeling. My job is technical, but I like to make it clear and kind for others. I believe in fair work, slow creativity, and learning step by step. This blog is my calm space to share stories, small moments, and things I make with care. Sometimes it’s a donut. Sometimes it’s a diagram. Sometimes it’s just a quiet thought from the day. my painting :P

Mt. Bokong (Batu City, East Java)

October 10th One of my colleagues told me about her plan to hike Mount Bokong in Batu, East Java. Hearing that instantly sparked my curiosity, and I started asking her a few questions. Maybe she noticed how interested I was, because she ended up inviting me to join the trip. Honestly, I’ve always wanted to try hiking again. I once climbed Budug Asu near Lawang—if I’m not mistaken—and it left quite an impression on me. So, without thinking too much, I said yes to her invitation. But then she mentioned she’d be going with her boyfriend. That made me hesitate. I’d be going alone, and I didn’t want to intrude on their time together, haha. She added that a few others would be joining too—her boyfriend’s friend, the friend’s wife, and the friend’s mother. So, there would be five people in total. That made me pause again. I didn’t know any of them, and I was worried I’d be disrupting their plans. But my colleague had already asked her boyfriend if it was okay for me to come along, and he...

My Answers

What am I really feeling when I wake up and everything feels heavy? Lately, I've been waking up with a heavy feeling in my chest. It starts with the usual thoughts—feeding the cats, cleaning the litter box, tidying up whatever mess they made overnight. Then, of course, getting ready for work. The routine itself isn't dramatic, but something about it feels heavier than it should. The hardest part, I think, is going to work. Spending the whole day sitting in front of a laptop, eyes strained, head aching from reports and endless analysis. It happens five days a week. Not even full-time, not 24/7—but somehow, I feel exhausted all the time. Sometimes I imagine escaping. Resigning. Staying home. Just playing with my cats and letting the world go on without me. But I need money. I need to feed them. And so, I keep showing up—even when my spirit feels like it's somewhere else. 😧 What do I keep returning to in my thoughts, even when I try to move on? I feel tired every time these...