Skip to main content

Belajar Cuek

Pembuka
Beberapa waktu lalu, pikiran untuk resign kembali muncul dalam benak saya. Pertimbangan itu awalnya murni dari diri sendiri, dengan memikirkan orang-orang di sekitar saya. Namun, semakin dipikirkan, semakin pusing rasanya sampai badan ikut terasa capek. Saya butuh tempat bercerita, bukan ke orang tua, melainkan ke beberapa teman yang saya anggap lebih dewasa dalam berpikir. Dari obrolan itu, saya mendapat beragam jawaban yang membuka sudut pandang baru tentang pilihan antara resign atau bertahan.

Pertimbangan Pertama: Resign Segera
Alasan utama yang membuat saya ingin resign adalah ketidaktenangan pikiran saat mengerjakan pekerjaan yang terasa asal-asalan. Bos saya jarang sekali mengecek hasil kerja, padahal suatu saat pasti ada pertanggungjawaban. Walaupun yang dimintai pertanggungjawaban akhir adalah bos, tetap saya saya yang mengerjakan. Dari segi manajamen pun terasa kurang jelas, sering berubah-ubah, dan tidak tertata, sehingga yang kesulitan adalah bawahan seperti saya. 
Setiap hari terasa berat karena pikiran terus dipenuhi pekerjaan yang belum selesai. Setiap pagi rasanya ingin mencari-cari alasan untuk tidak masuk kerja. Saya mudah lelah meski tidak ada aktivitas fisik yang berat, lebih memilih menghabiskan waktu dengan scroll media sosial daripada bersosialisasi, bahkan dengan keluarga sendiri. Saya pun sering menghindari bertemu orang. Kondisi ini membuat saya merasa tidak tenang secara batin, bahkan muncul ketakutan bahwa pekerjaan ini bisa menambah dosa. Teman-teman saya menyarankan untuk segera resign, karena tekanan mental seperti ini sudah mengarah pada gejala stres dan bisa berdampak buruk jika dibiarkan.

Pertimbangan Kedua: Bertahan dengan Sikap Cuek
Di sisi lain, ada teman yang menyarankan untuk tetap bertahan. Alasannya sederhana: saya masih butuh uang. Namun, dengan catatan harus belajar cuek alias bodo amat terhadap tekanan dan pikiran liar yang muncul. Menurut mereka, zaman sekarang mencari kerja itu sulit, apalagi usia saya sudah mendekati kepala tida dan skill yang saya miliki masih biasa saja. Dengan sistem manajemen perusahaan yang seperti ini, pilihan paling realistis adalah bekerja secukupnya, tanpa terlalu memikirkan benar atau salah, karena pada akhirnya semua akan di titik evaluasi.

Pertimbangan Ketiga: Menunggu Proyek Selesai
Pilihan terakhir adalah melanjutkan pekerjaan sampai proyek yang sedang berjalan selesai, sambil mencari pekerjaan lain atau bahkan membuka usaha. Opsi ini terdengar paling masuk akal, tetapi juga paling sulit dijalani. Ada rasa ingin segera lepas dari beban, namun di sisi lain ada tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulai dan tanggung jawab untuk memulai sesuatu yang baru sebagai sandaran ekonomi.

Pertimbangan Tambahan: Suara Keluarga dan Pandangan Sosial
Jujur saya ingin sekali berhenti dari pekerjaan ini. Namun, ada hal lain yang membuat saya ragu: bagaimana dengan keluarga saya jika saya menganggur. Keluarga saya cukup peduli dengan omongan orang. Jika ada yang menggunjing atau menanyakan hal sensitif, biasanya akan dipikirkan sampai berlarut-larut. Saya jadi bertanya-tanya, apakah saya harus memikirkan diri sendiri dulu atau keluarga dulu? Memang saya bukan tulang punggung keluarga, tetapi sebagai anak tentu ada harapan untuk menjadi kebanggaan orang tua. Ketika ditanya orang "Anakmu kerja di mana?", mereka bisa menjawab dengan bangga. Namun, jika sedang tidak bekerja, rasanya sulit sekali mencari jawaban.

Refleksi: Masih Bingung Belajar Cuek
Dari semua pertimbangan yang saya dengar, banyak yang menyarankan untuk belajar cuek. Tapi jujur, saya sendiri belum tahu caranya. Rasanya sulit sekali untuk benar-benar bodo amat terhadap tekanan, apalagi ketika pikiran terus berputar dan rasa tanggung jawab masih menghantui. Saya masih bingung, apakah cuek bisa benar-benar membantu, atau justru membuat saya semakin tidak peduli dengan hal-hal penting. Mungkin proses ini memang butuh waktu, dan saya masih mencari cara untuk memahami apa arti cuek yang sebenarnya dalam hidup saya.

Deskripsi gambar

Kerja buat uang, bukan buat overthinking. Tapi kok tetap mikir ya?

Comments

Popular posts from this blog

About Me

Hi, I’m Shaqin. I enjoy quiet things—like taking photos, writing, and making small handmade crafts. I also work with maps, report, water modeling. My job is technical, but I like to make it clear and kind for others. I believe in fair work, slow creativity, and learning step by step. This blog is my calm space to share stories, small moments, and things I make with care. Sometimes it’s a donut. Sometimes it’s a diagram. Sometimes it’s just a quiet thought from the day. my painting :P

Mt. Bokong (Batu City, East Java)

October 10th One of my colleagues told me about her plan to hike Mount Bokong in Batu, East Java. Hearing that instantly sparked my curiosity, and I started asking her a few questions. Maybe she noticed how interested I was, because she ended up inviting me to join the trip. Honestly, I’ve always wanted to try hiking again. I once climbed Budug Asu near Lawang—if I’m not mistaken—and it left quite an impression on me. So, without thinking too much, I said yes to her invitation. But then she mentioned she’d be going with her boyfriend. That made me hesitate. I’d be going alone, and I didn’t want to intrude on their time together, haha. She added that a few others would be joining too—her boyfriend’s friend, the friend’s wife, and the friend’s mother. So, there would be five people in total. That made me pause again. I didn’t know any of them, and I was worried I’d be disrupting their plans. But my colleague had already asked her boyfriend if it was okay for me to come along, and he...

My Answers

What am I really feeling when I wake up and everything feels heavy? Lately, I've been waking up with a heavy feeling in my chest. It starts with the usual thoughts—feeding the cats, cleaning the litter box, tidying up whatever mess they made overnight. Then, of course, getting ready for work. The routine itself isn't dramatic, but something about it feels heavier than it should. The hardest part, I think, is going to work. Spending the whole day sitting in front of a laptop, eyes strained, head aching from reports and endless analysis. It happens five days a week. Not even full-time, not 24/7—but somehow, I feel exhausted all the time. Sometimes I imagine escaping. Resigning. Staying home. Just playing with my cats and letting the world go on without me. But I need money. I need to feed them. And so, I keep showing up—even when my spirit feels like it's somewhere else. 😧 What do I keep returning to in my thoughts, even when I try to move on? I feel tired every time these...